MISKIN…MISKIN…

January 5, 2007

Miskin…miskin…
namanya juga miskin…miskin harta…miskin kegembiraan…bahkan miskin kata2…
gak enak jadi orang miskin, gak boleh sakit…gak boleh sekolah…gak boleh inilah…makanya orang g suka jadi miskin. sampai ada buku khusus untuk orang miskin yang pengen jadi kaya, dari Robert T kiyoshaki sampai Renald khasali.
kayak sekarang, lagi miskin kata2. makanya g da isinya….

MARIAGE, WHAT FOR?

December 22, 2006

Pernah baca “THE END Of MARIAGE ANd THE LAST SEX” karya Soffa Ihsan?
Buku ini adalah sebuah dekonstruksi atas makna dan esensi dari “mariage”.
Jika tujuan kita hanya untuk sex, kenapa tidak cari dilokalisasi aja?toh lebih murah dan bervariasi.
Kalo cuman ngerasain hidup berdua ma pacar, hidup serumah aja. toh tanggung jawab berdua N resikonya lebih kecil.g tau kalo takut direcoki ma omongan orang lain, ato digebuki ormas islam
Kalo butuhnya cuman legalitas, ya pake kawin kontrak…
Kalo maksudnya buat keturunan, kawin aja trus diasuh baby sitter….
Kalo buat finansial, kok kayaknya hina banget ya….tapi ada juga
fenomena yang terjadi saat ini, banyak orang yang sudah menikah n punya anak, tetep aja “jajan” diluaran. apa nggak dapet servis yang memuaskan dari pasangannya? ( berarti nikahnya “for sex” ) entahlah….
ada istri yang pengen ngelakuin adegan triple ma suami N wanita lain (manita baik2, bukan wts). belum lagi orang yang buang anaknya…
Lalu apa arti sebuah pernikahan, kalo banyak cara untuk mengcounter semua kebutuhan itu?
memang banyak orang yang berkata “bukan hanya untuk itu, ada sesuatu yang lain”, tapi parameternya “sesuatu yang lain” itu tidak jelas, alias kabur.
itu kata penulis dalam buku sih….tapi menurutku (biar ada antitesanya)…..
Kita dalam menjalankan hidup didunia dihadapkan pada dua pilihan :

1. didasari agama
2. didasari bukan agama

jika kita memilih yang pertama, ya semua yang kita lakukan haus berdasar pada agama. karena kita percaya ada kehidupan lain disana, dan kita harus mempersiapkannya didunia. termasuk melakukan pernikahan, yang pertama biar g banyak dosa. yang kedua da lain2nya banyak sekali, tapi sama sesperti yang diomongkan buku itu, ya keturunan, hidup bersama, etc.
Jika memilih yang kedua, ya tersrah mo nikah pa enggak, coz gak da alat “pemaksanya”. tapi kemungkinan besar memilih tuk enggak nikah, soalnya resiko N tanggung jawabnya kecil.

kalo kita nonton film orang2 liberal, spt Amerika. sebuah pernikahan bukan hanya sekedar upacara sakral. mereka benar2 memilih untuk mau menikah dengan siapa, kadang hidup serumah sampai punya anak (istilah indonesianya “kumpul kebo”), baru menikah. disini aku liat fungsi pernikaha lebih pada menetapkan partner untuk hidup sampai tua. nilai inilah yang menurutku harus kita adopsi (bukan kumpul kebonya). ini bisa kita “mix” dengan ajaran agama kita. jadi pernikahan bukan sekedar ritual.
Pernikahan adalah sebuah keberanian untuk berkomitmen dengan seseorang yang nantinya dijadikan partner dalam hidup, dan orang2 yang berkomitmen itu tidak akan melanggar komitmen yang sudah dibuat, pernikahan bukan sebuah “dagangan” seperti jajan pasar, dimana ada untung rugi. tentunya modal utamanya pernikahan harus dilakukan oleh orang yang saling mencintai. memang cinta tak harus memiliki, tapi kalo sama2 cinta ya harus berjuang, yo gak Tris.
Cuma ini yang bisa aku ajukan untuk mengcounter “Untuk apa pernikahan?”, sebenarnya ada sesuatu yang lain, tapi aku juga bingung parameter apa yang bisa kuberikan. And masih g tau alasan apa yang kuat tuk mengcounter buku itu (tentunya bukan dari sudut pandang agama). ada yang bisa bantu???
kalo pengen baca bukunya besok kalo pulang tak bawa, tapi bilang dulu.

Raung…

December 16, 2006

Lestari..
selalu ada yang baru dari orang – orang kreatif seperti KITA. ide dari sanguinis, di konsep oleh si melankolis dijalankan si korelis dan di tenangkan oleh si phlegmatis ketika muncul konflik. begitu sempurna, kumpulan dari manusia – manusia yang tahu role (peran) nya masing – masing.
tanpa frienship yang kuat, tanpa trust diantara, solidarity dan pengertian diantara KITA, KITA bukanlah apa – apa. KITA tidak ubahnya debu yang ada di muka bumi ini, hanya satu debu (KITA). KITA tidak bisa membangun sebuah rumah, gedung, bukit, apalagi gunung.
tapi jika debu (KITA), dapat disatukan maka akan dapat dibentuk sesuai dengan kemauan kita semua. kita harus menyatukan KITA yang sanguinis, KITA yang koleris, KITA yang phlegmatis dan KITA yang melankolis. supaya eksistensi kita ada di muka bumi ini.
RAUNG….bangkitlah KITA yang masih jadi debu sampai saat ini, jangan pecah debu (KITA) itu menjadi atom – atom atau lebih kecil lagi dari proton atau netron, jangan pecah debu itu menjadi quark-quark yang tak berbentuk.
RAUNG…semangatmu dulu,kini dan besok semoga tetap sama. we are one and still become one……

Lestari…

December 16, 2006

Lestari Dunia (Qt)!!!
Thank’s all my friends, Sanggrala Community, IK Base Camp, MAPALUS Ciu…, KOMPAS 35c, Liquid 2004, Photo Community, etc.
this is my (new) Blog, you can also looking for some informations in my Blog. about hiking, mountain, rafting, photograph, etc.
if you need other information from me, you can send email to cho289_as@hotmail.com
(boso inggrise sakmono wae…he…he…)


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.